SD N 1 Namlea Prioritaskan Pendidikan Berkualitas Tampa “Pungli”

9

 

Namlea.RanaNews.Sekolah Dasar (SD) Negri 1 Namlea berkomitmen untuk tidak melakukan pungutan kepada para siswa dan akan memanfaatkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) guna meningkatkan kualitas pendidikan  siswa.

Said Litiloly kepala sekolah SD N 1 Namlea kepada media (12/12)  menyampaikan untuk mendorong program pemerintah Jokowi-Jk dalam melakukan pemberantasan pungutan Liar (pungli) ia telah membatasi seluruh guru dan para wali kelas untuk tidak melakukan pungutan kepada siswa tampa alasan dan dasar yang kuat.

“saya telah membatasi seluruh guru dan wali kelas untuk tidak lagy melakukan pungutan tampa dasar alasan yang jelas” tandas litiloly.

Litiloly melanjutkan, ketika kedapatan, ia akan meminta guru atau wali kelas tersebut untuk melakukan pertanggungjawaban atas perbuatanya. Litiloly juga menjelaskan pihak sekolah akan memanfaatkan penggunaaan dana BOS sebaik-baiknya untuk mengoptimalkan kualitas pendidikan siswa dengan sarana prasarana yang memadai dan kedisiplinan para tenaga pengajar.

“pihak sekolah akan memanfaatkan dana BOS untuk diprioritaskan kepada  sarana dan prasarana pendidikan agar kebutuhan belajar siswa dapat terpenuhi dengan baik” ujar litiloly (RN-MR)

“RAMA” tawarkan Program Kerja Nyata ditukar dengan Suara Masyarakat Kayeli dan Wayasel.

15497818_120300001078615109_1615210636_n

Namlea,RanaNews. Dusun Wayasel akan ditingkatkan statusnya menjadi desa, hal ini disampaikan oleh calon bupati buru Ramly I Umasugi saat berkampanye di dusun tersebut pada minggu (11/12), selain itu desa kayeli dan dusun Wayasel dirinya berjanji akan membuka kembali Tambang gunung botak (GB) sebagaimana mekanisme aturan yang berlaku.

Dalam kampanye dialogis di kedua tempat itu Umasugi memaparkan sejumlah program Visi-Misi yang didalamnya terkait kebutuhan masyarakat yang mendesak, diantaranya akan diberikan program pemberdayaan, jalan dan jembatan yang saat ini dalam tahap pekerjaan, seain itu program bantuan layak huni, dan program listrik gratis.

“Semua tawaran program yang kami sampaikan ini akan ditukar dengan suara bapak ibu nanti di pilkada 2017 mendatang jika bapak ibu memilih RAMA”.

Sementara itu, ketua Tim Kampanye Iksan Tinggapi menghimbau agar masyarakat jangan terprofokasi dengan isyu-isyu murahan yang sengaja menjatuhkan pasangan RAMA.

Tingapi meminta untuk masyarakat kedua desa dan dusun ini agar tetap istikomah dan mengawal pasangan RAMA hingga menuju hari pencoblosan,

“basudara semua jangan terprofokasi dengan isyu-isyu yang sesat, letakan pilihan basudara ke pasangan RAMA, karna pasangan ini sudah tentu menang dan kami sangat yakin itu”.

Kampanye dialogis di kedua lokasi itu, Pasangan Ramly I Umasugi dan Amus Besan (RAMA) disambut dengan tarian adat buru cakalele dan hadrat, pasangan RAMA juga digiring oleh raja kayeli dan pemangku adat setempat untung mengangkat sumpah secara adat didepan ratusan masyarakat Kayeli dan simpatisan pendukung RAMA. (RN-EL)

“RAMA” :Buru Akan Kami Jadikan Pilar Peradaban.

15401214_120300001061453264_1692883149_n

RanaNews,Namlea,- Kampanye Dialogis Pasangan Ramly I Umasugi dan Amus Besan (RAMA) yang berlangsung di jalan baru pendopo wakil bupati buru jumat malam (9/12) mendapat apresiasi positif dari masyarakat setempat.

Calon Bupati Buru Ramly I Umasugi dalam pemaparan fisi-misi mengatakan, jika terpilihnya pasangan RAMA untuk memimpin buru kedepan, Kabupaten Buru akan di sejajarkan dengan daerah2 lain di Indonesia, selain itu Buru akan dijadikan Pilar Peradaban dan mercusuar,

“konsep ini jauh sebelumnya saya sudah rancang, yang mana berawal dari program Magrib mengaji, hal ini yang sangat di utamakan sehingga ahlak generasi penerus kita di buru tidak terpengaruh dengan budaya-budaya luar/teradopsi dengan budaya-budaya luar”.

Selain itu kata umasugi, Universitas Iqra Buru akan dinegerikan, Kemiskinan dan Pengangguran solusi permanennya adalah akan dilakukan pemekaran, sehingga sumber anggaran dapat terjangkau dan Kesehatan, Pendidikan, SDM dan Infrastruktur prioritas utama penopang pembanguna di kabupaten buru.

Sementara itu ketua tim kampanye iksan tinggapi mengatakan, Tawarann fisi-misi pasangan RAMA akan ditukarkan dengan Suara masyarakat buru dalam pemilu mendatang, olehnya Tinggapi mengajak masyarakat kabupaten buru untuk memilih pasangan RAMA karena sudah teruji, terbukti dan dapat membawa pembangunan ke jalan yang benar. (RN-EL)

SMP Negri 36 Dusun Miskoko Gunakan “BENDAHARA SILUMAN”

images

Namlea.RanaNews.Com,Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negri 36 Buru dusun miskoko kecamatan Waplau mengelolah Bantuan Operasional Sekolah ( Dana BOS) dengan menggunakan bendahara yang sama skali tidak dikenali identitasnya oleh tenaga pengajar yang lain.

salah satu  tenaga pengajar smp N 36 dusun miskoko yang tidak ingin disebutkan namanya kepada  media (09/12) mengatakan selama beberapa tahun terakhir ia tidak mengetahui siapa bendahara sekolah tersebut selama melakukan proses pengelolaan dana BOS.

ia juga menjelaskan dalam bagang struktur sekolah ada nama bendahara dengan inisial (AP) yang bukan dari salah satu tenaga pengajar dari sekolah tersebut.

“disekolah ada sembilan tenaga pengajar yang saya ketahui 3 orang honor dana BOS, 4 orang PTT dan 2 orang PNS yang salah satunya kepala sekolah, tetapi tidak ada yang berinisial (AP) tersebut” tandasnya kepada media.

Burhan hamid kepsek SMP 36 Buru saat dikonfirmasi melalui via sms dan telepon tidak merespon dan mencoba menghindari media dengan mematikan panggilan saat tau akan dikonfirmasi soal tersebut.(RN-02)

92.222 DPT Ditetapkan KPUD Kab.BURU

15403035_120300001051909273_333938056_n

 

Namlea,RanaNews, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Buru menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilihan Bupati dan wakil Bupati (Pilkada) kabupaten buru tahun 2017 sebanyak 92.222 pemilih.

Ketua KPU kabupaten Buru Munir Soamole mengatakan, berdasarkan hasil pleno penetapan Daftar Pemilih Tetap (DPT) kabupaten buru dengan Sistem Data Pemilih (Sidalih) yang digelar pada Kamis (8/12) berjumlah 92,222.

 

Suamole menjabarkan, Pemilih Laki-laki berjumlah 46,352 dan Perempuan 45,870, sedangkan jumlah TPS 259 dan jumlah Desa sebanyak 82.

dijelaskan pula, Kabupaten Buru dengan jumlah 10 kecamatan diantaranya untuk kecamatan Air buaya 10 desa, jumlah pemilih 6,886 dengan jumlah TPS 24. Kecamatan Batabual 5 desa, jumlah pemilih 6,308, dengan jumlah TPS 12. kecamatan Fena Leisela 13 Desa, jumlah pemilih 8,397, dengan jumlah TPS 38.

kecamatan Liliali 5 Desa, jumlah pemilih 7,892, dengan jumlah TPS 5. Kecamatan Lolong Guba 10 Desa, jumlah pemilih 9,755, dengan jumlah TPS 33. Kecamatan Namlea 7 Desa, jumlah pemilih 22,274 dengan jumlah TPS 50. kecamatan Teluk Kayeli 5 Desa, jumlah Pemilih 2,942 dengan jumlah TPS 7.

Kecamatan Waeapo 7 Desa, jumlah pemilih 9,318 dengan jumlah TPS 25. kecamatan Waelata 10 Desa, jumlah Pemilih 10,084 dengan jumlah TPS 27. kecamatan Waplau 10 Desa, jumlah pemilih 8,366 dengan jumlah TPS 26.

Setelah mendengarkan masukan dan perbaikan dari semua PPK pleno penetapan DPT dilakukan oleh Ketua KPU yang disaksikan oleh Ketua Panwaslih Kabuapten Buru dan juga saksi dari dua pasangan calon BARU dan RAMA.(RN-01)

Johanes Abraham Dimara

 

johanes-abraham-dimara-bw-253x300

Johanes Abraham Dimara dilahirkan pada tanggal 16 April di Korem, Biak Utara, Provinsi Papua. Pada usia 13 tahun ia diambil sebagai anak angkat oleh Elias Mahubesi, seorang anggota polisi Ambon dan membawanya ke Ambon. Di kota ini Dimara menyelesaikan pendidikan setingkat sekolah dasar pada tahun 1930, kemudian memasuki sekolah pertanian di Laha. Dari tahun 1935 sampai 1940 ia menempuh pendidikan sekolah agama (Injil). Sebagai lulusan sekolah agama, ia bekerja sebagai guru Injil di Kecamatan Leksuka, Pulau Buru.

1. Memasuki Dunia Keprajuritan

Tatkala balatentara Jepang memasuki Pulau Buru pada awal 1942 semua sekolah ditutup. Pendeta pemimpin sekolah yang berperan sebagai penyandang dana ditangkap oleh Jepang. Para guru pembantunya menjadi penganggur. Pada suatu hari datang seorang prajurit yang tengah mencari tenaga pembantu prajurit yang asli berasal dari Papua. Prajurit Jepang itu bertanya kepada penduduk : “Di sini Papua orang adakah?”, “ada di sini”, jawab penduduk. (Panggir), (Panggir)!. Penduduk memberitahukan dan orang Papua yang dimaksud ia adalah Johanes Papua seorang guru agama. Dengan rasa berdebar-debar takut dan penuh tanda tanya, guru tersebut memenuhi ajakan penduduk menghadap si Jepang. Ia dibawa menghadap Komandan pendudukan P. Buru, bernama Ishido, Kepala Pemerintahan dan (Watanabe) Komandan pasukan pendudukan.
“Kamuka Papua orangka?”, Tanya Ishido, “Ya, saya Papua”, jawab guru muda itu yang masih berusia 26 tahun. “Joto (Bagus), Joto. Mauka soma dai Nipponka mau jadi Polisika?”. Guru muda itu menjawab spontan, “Mau, mau!”. Memasuki dunia kemiliteran sudah barang tentu dia harus berlatih tata cara militer terutama penggunaan senjata. Penampilan Pak Guru Johanes Papua berubah setelah mengenakan seragam. (Dia) diangkat sebagai Kempei-ho (Pembantu Kempei Kesatuan Polisi Militer atau polisi milite Jepang) yang ditempatkan di Markas Kempetai di Pulau Buru. Tugas seorang Kempei ho sebagai penyelidik keamanan, mengobservasi kegiatan orang-orang yang diduga sebagai mata-mata musuh atau membantu musuh sampai perang berakhir.

 

 

2. Masa Belajar

Siapakah identitas Johanes Papua, seorang guru Bantu agama yang amat dikenal di Namka ini?
Nama sebenarnya adalah Johanes Abraham Dimara (Arabei). Ia lahir di Biak Utara, pada 14 April 1916, dengan Ayahnya seorang Korano (Kepala Kampung) bernama Willem Dimara. Seperti anak-anak lain, Arabei oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah dasar di kampungnya, di bawah asuhan Tuan Guru Simon Soselisa. Pada suatu saat ada Inspeksi dari schoolopziener (Pemilik sekolah) yang dikawal oleh seorang Kepala Polisi dari Ambon bernama Mahabesi. Rupanya Mahabesi tertarik atas kecerdasan Arabei, tatkala menjawab arti kata yang dibacanya. Tanpa pikir panjang Mahabesi memutuskan, “Anak ini harus sekolah di Ambon.”. “Anak siapa dia?”, Tanya Mahabesi kepada Tuan Guru Soselisa. “Anak Korano Tuan!”. Mahabesi kemudian memanggil orang tuanya, menyatakan keinginannya untuk mengadopsi anak cerdas ini. Orang Tuanya menyatakan dengan senang hati, dengan harapan anaknya akan memperoleh pendidikan yang tinggi. Arabei meninggalkan kampung kelahirannya menuju ke dunia barunya Ambon. Kini Kepala Polisi Mahabesi telah sah menjadi ayah angkatnya. Nama Arabei, diganti dengan nama baptis Johanes Abraham. Nama marga tetap digunakan. Nama barunya menjadi Johanes Abraham Dimara. Johanes, pendidikan dasarnya menyelesaikan pada 1930, kemudian dilanjutkan ke sekolah Pertanian Tamat pada 1935. Akhirnya dia menjadi guru sekolah Injil di Kecamatan (Leksula), P. Buru di bawah asuhan seorang Pendeta Belanda.

 

 

3. Masa Perjuangan Kemerdekaan

Setelah Jepang Menyerah sebagai seorang bekas Kempei-ho, tidak jelas pekerjaannya. Namun ada yang berubah dalam kejiwaan Dimara. Propaganda Jepang yang anti penjajah orang kulit putih dan patriotisme sangat mendalam dirasakan, Diskriminasi rasional, pendidikan, jabatan yang dipraktekkan oleh pemerintah Hindia Belanda membuka kesadarannya bahwa betapa mulianya sebagai manusia yang merdeka. Pada saat itu hubungan dengan Jakarta sama sekali terputus, demikian pula berita-berita tentang keadaan di lain-lain daerah. Karena pada masa perang Pulau Buru termasuk dalam wilayah perang, medan pertempuran antara Balatentara melawan Tentara Amerika Serikat. Markas Komando Pasukan Jepang di Ambon terisolasi, terputus komunikasi dengan daerah lain. Berita Proklamasi Kemerdekaan baru dia dengar pada bulan Mei 1996, setelah ada ekspedisi dua kapal kayu ke Maluku yaitu KM Sindoro dan KM Semeru. KM Sindoro yang dinahkodai oleh Letnan Ibrahim Saleh dan jurumesin Yos Sudarso sampai perairan Pulau Buru, yang berjarak 500 m dari Namka, Kota utama Pulau Buru. Kedatangan kapal ini menarik perhatian penduduk karena berbendera Merah Putih. Beberapa orang pemuda yang dipimpin Dimara berusaha mendekat. Dengan sebuah perahu dayung akhir berhasil mencapai Kapal Sindono. Mereka bertemu dengan Komandan Kapal Ibrahim Saleh dan Perwira Pertama Letnan Yos Sudarso. Mereka saling berkenalan. Dimara dan kawan-kawannya menyarankan agar kapal berlabuh di Namelek yang jaraknya satu kilometer dari tempat mereka berhenti. Kedatangan ekspedisi ini disambut dengan kecurigaan polisi setempat. Mereka mencegah agar para awak kapal turun ke darat. Namun Johanes Papua alias Dimara ini dan kawan-kawannya meyakinkan polisi bahwa ia akan mencegah mereka turun dari kapal. Polisi terbujuk, menyerahkan penjagaan kepada para pemuda Dimara dan kawan-kawannya tetap berencana akan mendaratkan kelompok ekspedisi. Beberapa orang kawannya yang terpercaya Abdullah Kaban, Abdullah bin Talib, Adam Patisahursiwa, seorang mantan Camat Namka yang sangat anti Belanda. Bahkan Adam mengajak anak buahnya untuk ikut bersama Dimara menuju Kumbrasa, yang jaraknya lebih kurang 12 Km dari Nametek. Mereka menghubungi Raja (kepala desa) Kumbrasa Bahadin Besi dan Raja Namka, seorang tokoh yang berpengaruh besar, ternyata mendukung rencana Dimara dan kawan-kawannya.
Pada 6 April 1946 beberapa orang pemuda telah berkumpul di rumah Raja Bahadin : Anton Papilaya salah seorang anggota ekspedisi yang berhasil turun dari kapal diperkenalkan dengan para pemuda yang sedang berkumpul. Dengan tekad yang mantap mereka berencana menyerang Namka untuk mengakhiri kekuasaan NICA di Pulau Buru, Adam memberi semangat : “Inilah saatnya untuk menghabisi Belanda!”. Johanes Papua atau Dimara dipilih sebagai salah seorang pemimpinnya, karena selain pemberani dia telah memperoleh pelatihan militer pada masa pendudukan Jepang. Pimpinan lainnya dipilih Anton Papilaya, karena dia seorang pemberani yang datang dari Jawa. Tatkala gerakan penyerangan ke Namka yang dipersiapkan seorang anggota polisi yang membantu pemuda memberitahukan bahwa kapal Sindoro telah disergap oleh Belanda dan ditarik ke Ambon. Pada bulan April 1946, para pemuda yang bergerak dari Kumbrasa telah mendekat ke Namka. Sebelum itu, kepada rakyat diumumkan bahwa Residen Maluku Van Ball akan datang ke Namka. Masyarakat Namka diperintahkan untuk membersihkan Kota untuk menyambut kedatangan Residen.
Pada 8 April 1946, para pemuda yang berkekuatan 300 orang bergabung dengan masyarakat berpura-pura ikut kerja bakti membersihkan kota. Sampai di depan kantor polisi mereka menyergap sejumlah polisi dan langsung menyerah. Jatuh korban seorang polisi tertembak. Serangan dilanjutkan ke kantor Kecamatan (Asisten Wedana), Bendera Merah Putih Biru yang berkibar di depan kantor diturunkan dan dirobek birunya dinaikkan kembali menjadi merah putih. Para pemuda secara serempak memekik : “Merdeka! Merdeka!”. Selanjutnya mereka bergerak memasuki kota. Kota Namka berhasil dikuasai pemuda, dan selama 5 hari. Pada 12 April 1946, Belanda mengirimkan pasukannya Kapal Perang HMS Princes Irene, menurunkan sekoci yang memuat beberapa orang serdadu KNIL. Salah seorang diantara mereka menembaki rumah penduduk secara membabi buta. Sebaliknya seorang pemuda nekad menembak serdadu KNIL dari jarak dekat. Ia terkapar dan tewas, kawan-kawannya bergegas kembali ke sekoci. Setelah insiden tersebut Namka menjadi sangat sepi. Pasukan penyerbu meninggalkan kota dan para kepala kampung secara diam-diam pulang ke rumah masing-masing.
Pada pagi hari pasukan Belanda telah menguasai dan melakukan operasi pembersihan. Para Kepala Kampung tatkala ditanya siapa yang memimpin serangan, mereka menyebut dua nama : Johanes Papua dan Anton Papilaya. Nasib Anton Papilaya sedang sial. Ia tertangkap dan dibawa ke Ambon. Selanjutnya ia diajukan ke pangadilan dan dijatuhi hukuman penjara. Johanes Papua bernasib lebih baik. Ia bersembunyi di sebuah Kampung Islam dan dilindungi oleh kepala kampung. Dia diberi sebuah perahu untuk melarikan diri keluar Pulau Buru. Dalam pelariannya Johanes Papua mengarahkan perahunya ke Pulau Sanana. Rupanya Kepala Kampung tidak bersahabat. Kedatangannya dilaporkan kepada petugas keamanan. Johanes Papua bersama dua orang kawannya Abdullah Kaban dan Adam Patisahursiwa mantan asisten wedana ditangkap, ditahan di kantor Polisi Sanana. Karena takut mereka lari, Kepala Polisi memerintahkan tangan mereka diborgol. Ketika kapal penjemput datang dari Ambon, Mereka diangkat ke sebuah sekoci. Dermaga Pelabuhan Sanana sangat pendek. Kapal perang tidak bisa merapat. Sebelum diangkat ke sekoci, Kepala Polisi memerintahkan agar kaki kedua orang ini dimasukkan ke karung, “Kasih masuk dia ke karung. Ikat sampai pinggang!”, Perintahnya. Dengan tangan terikat, kaki dalam karung ia digelandang ke sekoci. Karung dilepas tatkala mau naik ke kapal. Tiba di kapal mereka langsung dijebloskan ke sebuah kurungan yang berukuran satu meter persegi, hanya cukup untuk jongkok. Turun dari kapal langsung diangkut ke penjara Pohon Pale, sambutan “selamat datang” sudah dipersiapkan oleh pegawai penjara. Mereka dihajar habis-habisan. Baru kemudian dimasukkan ke sel yang sempit. Buang air, makan, dan tidur di tempat yang sama.
Pada Bulan Juli 1946, Dimara dan kawan-kawannya diajukan ke pengadilan militer Batu Gajah Ambon. Sebuah Jeep datang menjemputnya. Tangan dan kakinya dirantai, dengan susah payah ia naik ke Jeep. Tidak ada yang membantu. Di dalam sidang Hakim Ketua yang bernama Van der Room ditanya,
“Saudara Kepala Merah Putih ya?”
“Ya, ya”, jawab Dimara
“Saudara orang Papua dari mana?”
“Saya dari Biak”
Pantas orang Biak itu kepala keras.
Tanya Jawab berlangsung seru. Karena Dimara tetap merasa tidak bersalah. Ia menolak semua tuduhan. Akhirnya vonis pun jatuh. Dua puluh tahun penjara untuk Dimara, dan dikembalikan tempat semula. Karena panjangnya masa hukuman, Dimara diangkat sebagai Foreman. Pada suatu kesempatan, tatkala para sipir kurang waspada memerintahkan Dimara untuk bekerja keluar tembok, suatu kesempatan emas untuk membebaskan diri. Ia bersama dua orang kawannya mengecoh petugas. Kabur dari pengawasan, melarikan diri dari penjara sudah direncanakan secara masak-masak, menunggu kesempatan. Tujuan mereka Pulau Seram, Tanah tumpah darah kedua kawannya. Pada malam hari, setelah bersembunyi di kampung di pinggir pantai, Dimara dibantu oleh dua orang pemuda Kampung Wakasiha dan menyebrang ke Pulau Seram. Peristiwa Pelarian orang-orang Merah Putih dari penjara Ambon menjadi berita besar aparat keamanan dan petugas pemerintah ditugaskan untuk menangkapnya. Kisah pelarian para pendukung Merah Putih amat dramatis, mereka singgah dari pulau ke pulau untuk menghindari penangkapan. Tatkala tiba di pulau Manipa, mereka menginap di rumah Haji Musa. Rupanya Polisi telah memperoleh informasi mengenai keberadaan mereka. Rumah Haji Musa digrebek oleh polisi yang didatangkan dari Piru, pada saat Pak haji dan para tamunya tidur lelap. Suasana malam yang gelap gulita menguntungkan para tamu. Apalagi terjadi keributan tatkala penggrebekan. Para tetangga terbangun, mendatangi rumah Haji Musa ingin tahu apa yang terjadi. Kerumunan tetangga Haji Musa menyulitkan polisi dan kesempatan emas bagi Dimara dan kawan-kawannya untuk meloloskan diri.dan bersembunyi di dalam hutan. Sejak ia melarikan diri dari penjara pada akhir tahun 1946, rupanya ia hidup dalam ketakutan. Sepanjang pelariannya akhirnya kembali ke titik awal, kota Namka Pulau Buru. Sebenarnya di tempat tinggal asalnya ini tidak ada lagi orang yang mengenalinya. Polisi pun tidak pernah merasa terganggu, karena Johanes Papua manusia yang dicari-cari sudah berada di penjara. Ia tinggal di rumah Raja Ambrasa Bahadiri Besi. Kemanapun ia leluasa bepergian. Peran tokoh provokator Merah Putih telah dilupakan oleh masyarakat.
Pada suatu siang ia melihat dua orang polisi berpatroli. Tidak pernah diungkapkan alasannya pada saat itu, mengapa ia menghampiri polisi yang sedang berpatroli di kampung Hatawao itu dan berkata : “saya Johanes Papua, mari sama-sama pergi ke Namka. Saya menyerah”. Mereka terkejut. Manusia yang paling dicari telah berada dihadapannya. (Monuputy) Komandan Polisi Namka menerima penyerahannya. Tiga hari kemudian sebuah motor boat dengan dirantai tangan dan kakinya. Polisi masih “Trauma” akal licik orang Papua ini. Tiba di Ambon, langsung di bawa ke tempat semula, Rumah penjara Pohon Pule. Sekalipun dijaga secara ketat, perlakuan terhadap dirinya berbeda, apakah karena ada perkembangan politik atau sebab lain tidak ada sumber yang ditemukan. Mungkin ia dikategorikan sebagai terpidana (SOB) artinya tawanan perang. Tidak terlalu lama ditahan di penjara Pohon Pule, Pada Bulan Agustus 1947 bersama 12 orang lainnya dipindahkan ke Rumah Penjara Trungku Layang di Makassar. Ternyata di rumah penjara ini terdapat 3000 tahanan. Di dalam tahanan ini ia berkenalan dengan Andi Bahtiar, Hasanuddin, Andi Arsad yang ternyata mereka adalah pejuang-pejuang Sulawesi Selatan bukan tahanan kriminal. Pada akhir bulan Desember 1949, Dimara dibebaskan dari penjara karena perubahan situasi politik. Pemeruntah Belanda telah mengakui kedaulatan RI. Keluar dari penjara ia tinggal tiga bulan di Makassar, kemudian kembali ke Ambon. Situasi di Ambon sedang memanas, Gerakan Republik Maluku Selatan sedang naik daun. Dimara mendapat ancaman akan dibunuh. Demikian pula anggota Merah Putih lainnya diteror, diancam akan dibunuh. Terpaksa ia dan kawan-kawannya kembali ke Makssar. Tiba di Makassar ia menghadap Komandan Batalyon Pattimura Mayor Pieters dan melaporkan situasi di Ambon. Soumofkil telah memproklamasikan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS). Tanpa prosedur administrasi militer yang rumit, ia langsung diterima sebagai anggota Batalyon Pattimura. Pada bulan Juli Batalyon Pattimura diperintahkan berangkat ke Pulau Buru. Dimara dimasukkan dalam Kompi Letnan Mailoa. Rupanya di Pulau Buru, terutama Namka, pertahanan pasukan RMS sangat kuat, yang dipimpin oleh Liestieka mantan Sersan Mayor Baret Hijau KNIL. Kekuatan mereka lebih kurang satu kompi 150 orang.
Pada 14 Juli 1950 pasukan TNI didaratkan di Pulau Buru. Pendaratan TNI di Namka ini amat dramatis. Pasukan RMS yang berada dibalik pohon-pohon sagu melepaskan tembakan tanpa henti. Dengan bantuan tembakan senjata berat dari (korvet) Pattimura. Pasukan TNI berhasil mendarat, dan merebut Namka. Pasukan pendarat melanjutkan gerakannya ke Seram. Di Pulau Buru ditempatkan dua Batalyon, Batalyon Pellupessy dan Batalyon Pieters, Kesatuan Induk Dimara. Dalam pertempuran ini Dimara tertembak di bahunya. Ia ditolong oleh penduduk, dibawa ke markas komando batalyon. Karena lukanya dianggap parah dokter batalyon menyarankan agar Dimara dirawat di Makassar. Ia dirawat di rumah sakit Stella Mario.
Beberapa bulan setelah terjadi peristiwa pembangkangan Kapten Azis (April 1950), Presiden RIS Ir. Soekarno melakukan perjalanan dinas ke Makassar. Pada kesempatan itu Presiden mengunjungi para prajurit yang dirawat di rumah sakit itu. Ada seorang pasien yang menarik perhatian Presiden. Presiden menanyakan identitasnya. “Itu orang Papua”, jawab dokter Mailoa yang mendampingi Presiden. Presiden menghampirinya dan terjadi tanya jawab singkat. Setelah sembuh dari luka-lukanya, Dimara bersama seorang kawannya pergi ke Jakarta, menginap di rumah Mahmud Rumagesang, seorang putra Papua yang di angkat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA). Baginya yang penting sudah melihat Jakarta dari dekat. Dari Jakarta Dimara kembali ke Ambon. Karena merasa sebagai anggota militer, ia melapor kepada pejabat militer tertinggi di wilayah Maluku, Letnan Kolonel Suprapto Sokowati Komandan Resimen Infranti 25/ Maluku. Ia mendapat tugas membentuk satu organisasi perjuangan pembebasan Irian Barat. Organisasi terbentuk diberi nama Organisasi Pembebasan Irian (OPI). Beliau diangkat sebagai Pembantu Letnan Satu (Peltu), kemudian diberi jabatan Komandan Peleton Perhubungan Resimen Infranti 25/ Tentara dan Teritorium VIII di pulau Seram.

 

 

4. Komandan Pasukan Infiltran

Organisasi Pembebasan Irian adalah organisasi rahasia yang bertugas melatih para prajurit yang terdiri atas orang suku Papua. Mereka diseleksi secara ketat,. Pusat pelatihannya (Base camp) di Ambon. Tugasnya, melakukan Infiltrasi ke daratan Irian, membangun opini masyarakat agar berpihak kepada NKRI. Pembentukan organisasi untuk pendukung diplomasi yang dilakukan forum PBB. Pada suati hari, Dimara memperoleh panggilan dari Jakarta, dari Presiden Soekarno. Presiden memberikan perintah, “Anak dimara, Bapak perintahkan masuk Irian Barat dengan pasukanmu. Bagaimana pun Anak harus berbuat sesuatu”. Peristiwa itu terjadi pada 3 April 1954. Dua minggu kemudian tepatnya 14 Oktober 1954, ia dipanggil Komandan Resenian Infranter 25/TT VII, Kolonel Sokowati untuk membicarakan penugasannya masuk daratan Irian Barat. Para anggota OPI yang pernah di latih di Base camp dipanggil dan dilatih kembali selama satu minggu. Suatu latihan fisik dirasakan berat oleh para anggotanya. Bagi Dimara ada satu hal yang dirasakan amat berat, yaitu meninggalkan isteri yang sedang mengandung tua. Terjadi pergumulan batin antara tugas dan keluarga. Ia melapor kepada Kolonel Sokowati tentang keluarganya. Sokowato menjawab, “Jangan khawatir saya kasih rumah di Ambon.”
Pada saat terakhir Dimara ditunjuk sebagai Komandan pasukan dengan kekuatan satu peleton atau 40 orang. Pada 17 Oktober 1954, dimulai hari H operasi dengan sebuah kapal motor berangkat dari Ambon, menuju Dobo Kepulauan Aru, tiba pada tanggal 19 Oktober 1954. Pada 25 Oktober 1954, Para Infiltran menumpang kapal penyelam mutiara menuju Pulau Walialu dilanjutkan ke Teluk Etna (Etna Baay) atau bahasa local menyebut Etna Bae. Di tengah pelayaran kepergok patroli polisi Belanda, namun tidak terjadi kontak tembak. Sebagian dari mereka terjun ke Laut berenang menyelamatkan diri.Seorang Polisi Belanda, bernama Louis Van Kricken tinggal sendiri dalam perahu. Ia ditangkap dan ditawan bersama empat orang tawanan lain, Van Krieken dibawa ke Dobo. Peristiwa tertangkapnya polisi Belanda ini terjadi heboh, politik surat-surat kabar nasional memberitakan peristiwa ini. Pasukan Dimara akhirnya berhasil mendarat di daerah Etna Bae (Etna Baay), kemudian masuk ke Hutan.
Pasukan Belanda menyambut kedatangan Dimara dan anak buahnya. Sebuah pesawat pengintai terbang berkeliling di titik lokasi. Anak buah Dimara diketahui secara pasti. Belanda mendatangkan pasukannya. Terjadi pertempuran di dekat Telaga Yamor. Pasukan Dimara berhasil disergap 11 orang gugur. Yang lari berhasil ditangkap termasuk Dimara. Jumlah yang tertawan 20 orang kemudian di angkut ke Sorong. Setelah ditahan selama tujuh bulan dipindahkan ke rumah penjara Hollanda, setelah mendekam selama enam bulan di penjara di Hollanda mereka diajukan ke pengadilan Hollandia. Hakim Van der Vein yang pernah mengadili Dimara di Ambon pada 1946, mengenali kembali Dimara, berkata lantang karena berang, “Johanes Papua!, Kamu dulu sudah ditangkap di Ambon. Sekarang kamu di sini lagi. Tidak Tobat!”. Tanpa Vonis yang jelas Dimara dan kawan-kawannya diangkut ke rumah penjara Digul yang terkenal angker. Rumah penjara Digal pada masa Hindia Belanda adalah rumah penjara khusus bagi pelaku criminal kelas berat. Letaknya di seberang sungai Digul, berdekatan dengan Kamp tahanan politik. Hindia Belanda, dimana Bung Hatta pernah menjadi Kamp tersebut.
Dimara dan kawan-kawannya menghuni rumah penjara “seram” ini selama tujuh tahun. Mereka dikategorikan penjahat kelas berat. Dia sudah menerima sebagai resiko perjuangan. Tanpa disangka, setelah bermimpi ketemu presiden Soekarno dan Merah Putih berkibar, pada 18 April 1961, empat bulan sesudah dikumandangkan Trikora, ia dan kawan-kawannya dibebaskan dari rumah penjara Digul. Melalui perjalanan yang berliku-liku, akhirnya sampai di Soa Siu Ibukota Provinsi Irian diterima oleh Gubernur Sultan Zainal Abidin Sjah, dan Kolonel Busjiri. Panglima Kodam XV/Pattimura. Dalam suasana gembira tersebut, ia mendengar kabar gembira dan kabar sedih. Isterinya yang ditinggalkan sejak Oktober 1954, telah melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Ahy Jacoba Dimara yang pada saat kebebasannya telah berusia tujuh tahun. Berita menyedihkan, bahwa isterinya telah menikah dengan orang lain. Dengan suami barunya telah dikaruniai lima orang anak. Ia sangat sedih, kecewa bercampur marah, kesal. Ia merasa sebagai sebatang kara yang tidak berguna. Hatinya terhibur setelah Panglima Kolonel Busyiri menasehati dan membesarkan hatinya. “Seorang pejuang harus rela berkorban. Berkorban segalanya, kenyataan ini tidak bias diubah. Terimalah dengan senang dan bersabarlah.” Karena di Ambon tidak lagi memiliki tempat tinggal, ia tinggal di rumah Panglima. Dimara tidak tahu apakah Busyiri melaporkan nasibnya kepada atasannya Menteri Keamanan Nasional/KSAD Jenderal Nasution. Lebih kurang tiga bulan tinggal di rumah Panglima, Basyiri memerintahkan Dimara menghadap Jenderal Nasution untuk melaporkan peristiwa yang dia alami dan kondisi yang ia saksikan. Ia berangkat pada akhir Agustus 1961. Tidak bertemu dengan Jenderal Nasution tetapi melaksanakan tugas menyusun laporan sebagaimana petunjuk Busyiri. Di Jakarta situasi berbalik seratus persen, dia ditempatkan di hotel mewah Duta Merlin yang terletak di Jalan Hayam Wuruk (Harmoni). Antara Digul dan Duta Merlin seperti Bumi dan Langit sekalipun sama-sama prodeo. Sama-sama tidak bayar.
Pada Bulan September Dimara dipanggil Presiden Soekarno. Presiden didampingi oleh Pak Was dan Pak Subandrio, Menteri Luar Negeri. Kata Presiden: ”Anak Dimara terima kasih sudah pulang dengan selamat. Kamu Pahlawan Irian Barat! Mulai sekarang Dimara sebagai tokoh Irian Barat. Dimara saya utus untuk menjadi perwakilan Irian Barat di PBB.” Menjelang sidang Majelis Umum PBB Bulan September, Dimara berangkat ke New York. Rombongan Delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Dr. Subandrio. Ada tiga orang Irian lainnya yaitu Mary Dapare, Moses Weror dan Mathias Wondiri. Sekembali dari siding Majelis Umum PBB (Oktober 1961) Dimara terpilih sebagai Ketua Gerakan Rakyat Irian Barat (GRIB) menggantikan Silas Papare. GRIB adalah salah satu organisasi dari Front Nasional OPembebasan Irian Barat (FNPIB) yang dipimpin oleh Jenderal Nasution. Aktivitas GRIB terutama sekali melakukan kontra propaganda Belanda.
Sudah menjadi ketetapan pemerintah dan rakyat Indonesia perjuangan pembebasan Irian Barat harus “Banting Stir” dari perjuangan diplomasi ke konfrontasi bersenjata. Persiapan dilakukan dengan rencana secara cermat dengan langkah-langkahyang tepat. Presiden Soekarno membentuk dewan Pertahanan Nasional 14 Desember 1961. Dimara diangkat sebagai salah seorang anggotanya. Dalam sidang pertama Dewan Pertahanan Nasional (Depertan) diputuskan untuk membentuk Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat (Koti Pemirbar). Presiden Soekarno sebagai Panglima Besar (Pangsar) dan Jenderal A.H. Nasution sebagai Wakil Panglima Besar (Wapangsar). Langkah selanjutnya Presiden akan memberikan pidato resmi, suatu Komando bagi seluruh rakyat Indonesia untuk membebaskan Irian Barat. Atas saran Mr. Muh Yamin, tempat yang dipilih adalah Yogyakarta dan tanggalnya 19 Desember sebagai jawaban terhadap Agresi Militer Belanda II pada 1949. Presiden Soekarno tiba di Yogyakarta sehari sebelum komando diucapkan. Pada kesempatan itu Dewan Mahasiswa Universitas Gajah Mada meminta Presiden memberikan kuliah umum. Kuliah diadakan di Siti Hinggil (Kraton Yohyakarta). Pada kesempatan itu pula Presiden memperkenalkan Dimara, Putera dan Pejuang pembebasan Irian Barat yang diangkat sebagai anggota Dewan Pertahanan Nasional.
Kampanye perjuangan pembebasan Irian Barat diadakan di seluruh Indonesia dalam bentuk rapat-rapat umum. Dimara tidak pernah ketinggalan selalu hadir.

 

 

5. Diangkat Sebagai Mayor

Nasib Dimara yang masih berpangkat Bintara (Pembantu Letnan) mendapat perhatian dari Presiden. Mengingat jasa-jasanya yang luar biasa itu Presiden menaikkan pangkatnya secara luar biasa dari Pembantu Letnan menjadi Mayor. Dalam sejarah TNI barangkali hanya Dimara yang pernah memperoleh penghargaan kenaikan pangkat secara luar biasa. Pelatihannya dilakukan oleh Jenderal Gatot Subroto (Wakil Kepala AD) bertempat di MBAD pada tanggal 28 April 1962. Selanjutnya Dimara memang tidak terjun langsung dalam jajaran Komando Trikora, karena sebagai anggota Dewan Pertahanan Nasional kiprah dalam jajaran politik.
Johanes Abraham Dimara meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2000. Ia mendapat beberapa tanda penghargaan dari pemerintah, antara lain Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor : 052/TK/Tahun 2010 tanggal 8 November 2010.

 

SUMBER (DIT,KKKRS)

SEJARAH PERJUANGAN RAKYAT PULAU BURU DALAM MENENTANG PENJAJAH BELANDA : PERISTIWA HEROIK 8 APRIL 1946

               

index

Oleh : Tan, M.

Kedatangan KM. Sindoro Di Pelabuhan Namlea

 

Rabu 4 April 1946 jam 12 wit tiba dan berlabuh di teluk Namlea KM. Sindoro, kapal yang tak dikenal itu menarik perhatian ABDULAH BIN THALIB (Ami Do), dan untuk mengetahui tujuan kedatangan kapal tersebut Abdulah Bin Thalib menyuruh adiknya TALEB BIN THALIB dan dua orang temannya HAMIS SAANUN dan YUSUF CHAN untuk mendayung perahu kecil menuju ke kapal tersebut. Ketika perahu kecil yang ditumpangi tiga pemuda Buru tersebut mendekati kapal terlihat kibaran bendera MERAH PUTIH diatas kapal dan pada lambung kapal tertulis KM. SINDORO. Penumpang kapal ketika melihat ketiga pemuda itu langsung memekikan sebutan MERDEKA dan spontan direspons ketiga pemuda tersebut dengan pekikan yang sama MERDEKA. Anak buah kapal mempersilahkan Taleb Bin Thalib, Hamis Saanun dan Yusuf Chan untuk naik ke kapal. Anak buah kapal menjelaskan perjalanan mereka dari pulau Jawa ke Indonesia timur sambil menunjukan foto Bun Karno, Bung Tomo dan Y.Latuharihari serta foto-foto para pemuda yang sedang berjuang mengusir Belanda di pulau Jawa sebagai motivasi untuk membakar semangat patriotisme pemuda Buru. Anak buah kapal bertanya tentang status pemerintahan di pulau Buru dan pimpinan pemerintahan kepada ketiga putra Buru tersebut dan dengan tegas dijawab : pemerintahan masih dikuasai Belanda dan dipimpin seorang kontroler bernama GASPERS. Taleb Bin Thalib, Yusuf Chan dan Hamis Saanun selanjutnya memohon agar rombongan turun kedarat bertemu dengan tokoh-tokoh pemuda Buru yang sedang menanti. Permintaan ketiga pemuda tersebut diterima, dan turun kedarat untuk jumpa pemuda Buru adalah RADEN YUSUF KARTADIKUSUMA (pemimpin rombongan), IBRAHIM SALEH (kapten kapal), ANTON PAPILAYA (Tim PNC) sedangkan yang tinggal di kapal YOS SUDARSO, DOMINGGUS PATTINASARANE, WELLY NOYA, AGUS HEKTARI, MULYADI, DJAFAR, POLNAYA, ESPIANO dan Nn. ANA LUHUKAY.

 

Khabar Tentang Indonesia Merdeka

Di darat rombongan disambut hangat oleh Abdulah Bin Thalib dan teman-teman. Ketua tim

Menjelaskan kepada Abdulah Bin Tahalib dan teman-temannya bahwa mereka adalah tim dari BADAN PROPAGANDA DAERAH SEBERANG yang mendapat perintah dari BIRO PROPAGANDA PEMERINTAH R.I. yang berkedudukan sementara di yokyakarta, tugas kami adalah propaganda tentang kemerdekaan R.I. yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Mendengar berita Indonesia telah merdeka spontan tercetus rasa kegembiraan yang luar biasa oleh para pemuda yang hadir pada saat itu, rasa gembira yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Saat itu, saat KM. Sindoro sedang berlabuh di teluk Namlea pada tanggal 4 April 1946 bendera penjajah kolonial Belanda masih berkibar di kota Namlea karena pulau Buru masih dalam koloni pemerintahan Belanda. Untuk memotivasi dan membakar semangat patriotisme pemuda-pemuda Buru, YUSUF KARTADIKUSUMA berkisah tentang semangat patriotisme para pemuda di pulau jawa yang tidak mengenal menyerah dalam mengusir penjajah Belanda, semboyan mereka, para pejuang di tanah jawa adalah MERDEKA atau MATI.

Konsolidasi Kekuatan

Dalam upaya merapatkan dan meluruskan SAF PERJUANGAN dan penyebaran informasi kepada rakyat Buru, Abdulah Bin Thalib menyuruh seorang pemuda memanggil ADAM PATTISAHUSIWA untuk diperkenalkan dan berkenalan dengan para tamu istimewa tersebut. Dialog tentang perjuangan dilakukan sampai dengan siang hari dan makan siang bersama di rumah Abdula Bin Thalib. Pembicaraan rahasia dan bersifat tertutup dilakuan oleh Abdula Bin Thalib, Adam Pattisahusiwa dan Yusuf Kartadikusuma sampai dengan jam 5 sore. Pertemuan tahap ke-2 dilakukan besok hari 5 April 1946 jam 9.00 pagi Wit di tempat yang sama yaitu di rumah Abdula Bin Thalib. Rombongan yang turun dari KM. Sindoro pada 5 April 1946 jam 9.00 pagi itu untuk mengikuti pertemuan adalah IBRAHIM SALEH (kapten kapal), RADEN YUSUF KARTADIKUSUMA (pimpinan rombongan), PAPILAYA, YOS SUDARSO, DOMINGGUS PATTINASRANI, dan Nn. ANA LUHUKAI. Setelah selesai pertemuan rombongan menghaturkan terima kasih kepada putra-putra terbaik pulau Buru yang telah melayani mereka selama 2 hari. Sambil bersalaman terucap kata-kata : MERDEKA RAKYAT PULAU BURU, MAJU TERUS PANTANG MUNDUR.

 

Pertemuan Rahasia

Di Bawah Pohon Kelapa di Nametek

Tanggal 6 April 1946, Adam Pattisahusiwa menggagas pertemuan rahasia (pertemuan tertutup) dalam areal pohon kelapa di dekat rumahnya di Nametek. Rapat dipimpin oleh Adam Patisahusiwa, Abdulah Bin Thalib dan Papilaya diikuti oleh 60 orang pemuda Buru. Dalam rapat tersebut Adam Pattisahusiwa menyampaikan hasil pertemuan dengan TIM PROPAGANDA KEMERDEKAAN yang datang dengan KM. Sindoro. Adam Pattisahusiwa mengatakan kepada 60 orang pemuda Buru yang hadir dalam pertemuan tersebut sebagai berikut : Kita rakyat dan pemuda Buru harus sadar, jangan mau dijajah oleh siapapun, penjajah harus lenyap dari bumi kita ini, marilah kita bersatu berjuang mengembalikan hak-hak nenek moyang kita yang telah dijajah selama 350 tahun; setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Saya minta dari saudara-saudara para pemuda harus rela berkorban demi bakti kita kepada nusa bangsa dan tanah air. Teman-teman para pemuda Buru kita harus berani mengatakan MERDEKA. Tidak perlu takut karena Allah swt selalu bersama kita dalam membela kebenaran. Adam Pattisahusiwa menutup arahan dan nasihatnya dengan mengatakan KITA PASTI MENANG. Peserta pertemuan sejumlah 60 orang memekikan MERDEKA dan salah satu diantara para pemuda itu spontan berkata kepada Adam Pattisahusiwa sebagai berikut : KAMI SELALU SIAP SEDIA, SETIAP SAAT MENUNGGU PERINTAH dan KAPAN KAMI JALANKAN PERINTAH ITU. Mendengar dan menyaksikan semangat para pemuda yang berkobar-kobar, Adam Pattisahusiwa menundukan kepala sejenak dan serentak bertutur dengan penuh semangat : Saya dan Abdulah Bin Thalib telah mengambil keputusan 1 hari yang lalu, bahwa pada TANGGAL 8 APRIL 1946 tepat jam 8.00 pagi wit adalah hari H PENYERBUAN KE KOTA NAMLEA.

 

Pemuda Merah putih, Pemuda Buru

Menyerang Tentara Belanda di Kota Namlea

Penyerbuan kepada tentara Belanda di kota Namlea oleh PEMUDA MERAH PUTIH dimaksudkan untuk menaklukan gerombolan knil Belanda yang saat itu masih berkuasa dan dalam rangka pengambil alih kekuasaan dan kedaulatan dari Pemerintah Belanda untuk dikembalikan kepada pemerintahan yang sah yaitu Pemerintahan Republik Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Serangan pemuda merah putih ke kota Namlea dilakukan dari tiga penjuru mata angin : (1).dari arah timur (Nametek) dipimpin oleh Adam Patisahusiwa; (2). Dari arah barat (pohon durian) dipimpin oleh Abdulah Bin Thalib; dan (3).dari arah utara dipimpin oleh Hamid Koja.

Serangan dimulai ketika mendengar bunyi tembakan satu kali. Tembakan sebagai tanda dimulainya serangan ditugaskan kepada JAMALUDIN MAHULETE. Target serangan adalah 5 lokasi stratejik yaitu (1).asrama polisi Belanda; (2).kantor polisi militer belanda; (3).kantor HPB (Houfd Van Plastelyk Bestuur); (4). Kantor telegrap; dan (5).rumah kepala kantor HPB.

Perintah lebih lanjut dari komandan pasukan merah putih adalah setelah lima lokasi stratejik itu dikuasai, semua pegawai NICA diikat dan dikurung dikantor HPB, senjata disita dan yang melawan ditembak mati ditempat. Instruksi lebih lanjut oleh komandan pasukan kepada pemuda pasukan merah putih adalah rumah rakyat, pedagang dan harta benda mereka tidak boleh dirusak begitu pula halnya terhadap rumah pemerintah Belanda dan harta bendanya dilarang untuk dirusak atau diambil.

 

Pemuda Merah Putih

Menaklukan Tentara Knil Belanda

Serangan 8 April 1946 itu berhasil gemilang, semua lokasi stratejik dikuasai pemuda merh putih, pemuda pejuang Buru. Bendera Belanda MERAH PUTIH BIRU di depan kantor HPB berhasil diturunkan. Dalam proses penurunan, bendera tersebut tersangkut pada tiangnya dan seorang pemuda bernama IBRAHIM UMASUGI diperintah ABDURAHMAN WAMNEBO untuk memanjat tiang bendera guna melepaskankan sangkutan itu, bendera diturunkan dan warna BIRUNYA DIROBEK oleh ABDURAHMAN WAMNEBO. Setelah warna biru dirobek dilakukan persiapan PROSESI PENGIBARAN BENDERA MERAH PUTIH pada tiang yang sama didepan kantor HPB. RADEN AHMAD ditunjuk untuk memimpin lagu Indonesia Raya, SYARIF TASIJAWA berperan sebagai komandan upacara dan inspektur upacara ADAM PATTISAHUSIWA. Penggerek bendera ditugaskan kepada dua orang putra pemberani yaitu ABDUL MADJID TAN dan ABDURAHMAN WAMNEBO. Sebelum upacara penaikan bendera merah putih yang akan dilaksanakan tepat pada jam 10 pagi, ditugaskan kepada ABDUL HALIM TAN, HAMIS SAANUN, ABDULAH KABAU, SALIM UMATARNATE dan MUHAMAD BARGES untuk menyampaikan berita kepada masyarakat Namlea dan dimintakan hadir untuk menyaksikan upacara penaikan bendera yang penuh khikmat itu. Seteleh selesai upacara pengibaran bendera MERAH PUTIH, pada hari itu 8 APRIL 1946 tepat pada jam 10.30 pagi wit Pemerintah Belanda yang dijabat oleh kepala kantor HPB G. GASPERS menyerahkan kedaulatan dan kekuasan kepada PIMPINAN GERAKAN MERAH PUTIH : Adam Pattisahusiwa.

Demikian peristiwa 8 April 1946 yang heroik dan ditunjukan oleh pemuda-pemuda terbaik pulau Buru yang terorganiser rapi dalam barisan PEMUDA MERAH PUTIH. Mereka berjuang dan berkorban demi CINTA YANG TULUS DAN IKHLAS kepada bumi bupolo dan tanah air tercinta INDONESIA.

 

Pemuda Merah Putih

Menyerang Pos Tentara Knil di Pal 4

Setelah pengibaran bendera merah putih dan penyerahan kekuasan dan kedaulatan dari pemerintah belanda kepada pemuda merah putih, para pejuang pemuda buru (Pemuda Merah Putih) melakukan penyerangan pada jam 11 siang ke pos tentara knil di PAL-4. Penyerangan di pimpin oleh ABDULAH BIN THALIB (Ami Do) dengan menggunakan mobil truk hasil rampasan dari pemerintah belanda. Pasukan yang dipimpin Abdulah Bin Thalib membawa 30 orang Pemuda Merah Putih dan dengan berbekal 8 pucuk senjata hasil rampasan dari tentara belanda. Saat tiba di pos tentara knil di Pal-4, komandan pasukan berteriak dengan suara lantang MERDEKA, ANGKAT TANGAN, MENYERAH atau MATI. Pimpinn pos knil TELEHALA tidak menghiraukan perintah tersebut tapi lari meninggalkan pos dan saat itu pula ditembak oleh Abdulah Bin Thalib dan tewas di tempat. Lima orang anak buah Telehala dibekuk pasukan merah putih dan dibawa sebagai tawan perang ke kantor HPB yang saat itu berfungsi sebagai markas komando pasukan merah putih.

Keputusan – 6

Tentang Strategi Perjuangan

Pada`jam 13.00 wit pada hari penuh makna itu 8 APRIL 1946 dilakukan rapat kilat dipimpin Adam Pattisahusiwa bertempat di kantor HPB yang dijadikan BASIS KOMANDO. Rapat diikuti oleh para komandan pasukan dan menetapkan 6 keputusan (KEPUTUSAN-6) yaitu : (1).Memperkuat pertahanan di kota Namlea untuk mengantisipasi serangan balasan dari musuh baik dari dalam maupun dari luar; (2).Pemuda Merah Putih dilarang keluar kota Namlea kalau tidak ada perintah; (3).Tawanan perang diberi makan setiap hari dan kepada tawanan tidak boleh berlaku kasar. Keamanan tawanan dan keluarga harus dijamin; (4).Bila ada musuh yang menyerang tetap pertahankan dengan semboyan MERDEKA atau MATI; (5).Bila musuh lebih kuat, mundur secara tertib dan terkoordinasi menuju desa SIAHONI sebagai BASIS PERTAHANAN; (6).Setelah berkumpul di desa Siahoni segera susun kekuatan dan musuh diserang dengan teknik GERILYA ke kota Namlea.

 

Peristiwa 9 Apri 1946

Watak penjajah yang sombong dan serakah, watak kolonial Belanda saat itu yang tidak mau mengakui penyerahan kekuasaan dan kedaulatan membuat para durjana itu membuka serangan baru terhadap pemuda terbaik pulau Buru, Pemuda Merah Putih. Pada tanggal 9 April 1946 jam 11.00 wit masuk ke pelabuhan Namlea sebuah kapal motor dari Ambon yang membawa gerombolan tentara Belanda (Knil) berkekuatan satu pleton dengan bersenjata lengkap. Kapal yang membawa gerombolan knil tersebut kandas pada batu karang sekitar 150 meter dari tepian pantai. Turun dari kapal 3 orang serdadu knil ke jembatan Namlea dan dismbut oleh seorang pemuda pemberani, pemuda merah putih yaitu ABDUL MADJID TAN. Saat itu semua pemuda merah putih telah siap pada posisi masing-masing untuk mengusir gerombolan tentara knil tersebut. Abdul Madjid Tan ditanya oleh mereka tentang pimpinan HPB dan dijawab dengan tegas yang bersangkutan ada di kantor. Ketika ketiga serdadu knil tersebut berjalan menuju kantor HPB terdengar tembakan dari arah samping jembatan dan komandan knil tersebut jatuh tersungkur dan mati ditempat. Sniper yang membidik komandan knil itu adalah ABDULAH KABAU atas kerjasama stratejik dengan Abdul Madjid Tan yang menjemput ketiga serdadu knil itu. Dua orang anak buahnya ditawan oleh pemuda merah putih sebagai tawanan perang. Serentak terjadi tembak menembak antara pemuda merah putih yang berada di tepian pantai dengan gerombolan tentara knil yang berada diatas kapal. Pemuda Merah Putih dengan pekikan MERDEKA membalas serangan membabi buta yang dimuntahkan gerombolan tentara knil dari atas kapal. Gerombolan tentara knil akhirnya melarikan diri dari pelabuhan Namlea menuju Ambon.

 

Peristiwa 10 April 1946

Gerombolan tentara knil belum mau menyerah dan pada tanggal 10 April 1946 pada jam 2 siang mereka datang lagi ke Namlea dengan dua buah kapal dan satu diantaranya adalah KAPAL PERANG.

Sebelum melakukan pendaratan dilakukan penembakan dengan gencar dari atas kapal ke arah kota Namlea dan Pemuda Merah Putih tetap bertahan dan membalas serangan. Pertempuran sengit dan heroik untuk mengusir gerombolan tentara knil Belanda dilakukan Pemuda Merah Putih dalam tempo 2 jam. Karena keterbatasan amunisi dan persenjataan yang belum lengkap, para komandan pasukan merah putih memberi komando mundur dan bergerak ke basis pertahanan baru di desa siahoni. Dan selanjutnya mengatur strategi bergerilya untuk menguasai kota Namlea.

 

Namlea, Kamis 4 April 2013

 

SUMBER : Taleb Bin Thalib, Pulau Buru pada Masa Revolusi Fisik Tahun 1946 : Sejarah Perjuangan Rakyat Pulau Buru dalam Menentang Penjajah Belanda (naskah dalam tulisan tangan). Cabang Markas Legiun Veteran R.I Pulau Buru

SEJARAH merupakan bagian terpenting dari eksistensi sebuah bangsa. Disadari atau tidak, sejarah sangat terpengaruh terhadap maju mundurnya perkembangan sebuah bangsa. Hal ini perlu difahami sebagai rangkaian dialogis, kritis, dan terus-menerus antara pelaku peristiwa masa lalu demi terciptanya IDEALISME sebuah negara yang mapan.

Tiga Setengah Jam Sejarah Indonesia dalam Drama Khatulistiwa

                                                            Tanah airku tidak kulupakan
                                                            Kan terkenang selama hidupku

                                                            Biar pun saya pergi jauh

                                                            Tidak kan hilang dari kalbu

                                                            Tanah ku yang kucintai

                                                            Engkau kuhargai

                                                           Walaupun banyak negri kujalani
                                                           Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku

                                                           Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan

                                                          Engkau kubanggakan

Lantunan lagu nasional berjudul Tanah Airku itu dibawakan oleh Sita Nursanti ‘RSD’ sebagai pembuka sebuah pertunjukan drama musikal bertajuk ‘Khatulistiwa.’ Lagu itu membuat merinding karena menularkan semangat mencintai bangsa, dengan tidak melupakan sejarahnya.

Di balik tempat Sita berdiri, terdapat layar besar yang menampilkan cuplikan para pejuang kemerdekaan Indonesia lewat sebuah video 3D. Ada wajah Dewi Sartika, Ki Hajar Dewantara, I Ketut Jelantik, HOS Tjokroaminoto, Tjut Njak Dien, Sultan Hassanudin, Soekarno, Bung Tomo.

Penampilan Sita juga dimeriahkan beberapa anak berpakaian Pramuka yang lalu lalang di antara penonton. Mereka ikut bernyanyi sambil berjalan menuju panggung dengan bantuan cahaya lampu senter. Aksi panggung dan pertunjukan itu pun menjadi lebih dramatis.

Seketika lampu padam, itu menjadi penanda peralihan ke awal cerita. Ditampilkan sekelompok pendaki gunung yang beranggotakan satu orang dewasa bersama anak dan para keponakannya.

Dalam perjalanan mereka berceloteh, bertingkah bak anak-anak biasanya yang punya banyak rasa ingin tahu. Anak-anak itu pun bertanya segala hal. Hingga pada satu cerita, sang ayah berkisah soal sejarah bangsa Indonesia, sembari mengisi perjalanan mereka.

Sejarah itu digambarkan lewat awal perjuangan rakyat Indonesia yang berhadapan dengan Belanda sebagai penjajah.

RANA NEWS”

Latar pertama digambarkan saat zaman penjajahan VOC lewat peristiwa Anyer Panarukan.

Kisah pun berangsur berganti pada perjuangan Pangeran Kornel dari Sumedang yang menentang saudara sebangsanya karena berada di pihak Belanda.

Cerita terus berkembang pada penggambaran soal perjuangan sosok para pahlawan dari berbagai daerah di Indonesia.

Seperti Sultan Hasanuddin yang tumbuh menjadi pangeran pemberani. Diceritakan butuh waktu 16 tahun untuk Belanda dapat berdamai dengannya.

Pada setiap cerita, aksi akrobratik saat pertarungan tampak begitu nyata.

Tak hanya para pahlawan pria, pahlawan wanita pun turut diceritakan perjuangannya. Ada Christina Martha Tiahahu yang sudah memimpin pasukan sejak usia 17 tahun, kemudian Putri Lopian Sinambela anak dari Sisingamangaraja 12 yang tewas saat coba melindungi ayahnya.

Tak luput, kisah Tjut Nyak Dien pahlawan dari Aceh yang dibuang ke Sumedang, serta Dewi Sartika pahlawan pendidikan bagi para wanita di Bandung. Dirinya mengajari wanita untuk tak hanya mahir menjadi ibu rumah tangga tapi juga berpendidikan dan tak mudah menyerah.

Dalam segmen itu, gambaran soal wanita tangguh tak hanya diwujudkan dalam sosok Dewi. Ada juga wanita masa kini, dengan cuplikan video dari berbagai bidang. Pratiwi Sudartomo, Nyi Ageng, Butet Manurung, Susi Susanti, Christine Hakim, Titiek Puspa, sampai Shinta Widjaya.

Di sela-sela pertunjukan itu, rombongan pendaki menyiratkan “wanita tangguh tak hanya Kartini, ada banyak wanita di luar yang hingga kini masih mengadopsi semangatnya.”

Cerita pun bergerak bahwa sejak 1900-an pejuang Indonesia mulai berperang lewat intelektual. Itu dibuktikan lewat kisah HOS Tjokroaminoto, seorang anak bangsawan yang memiliki kesempatan bersekolah tapi tetap rendah hati. Dia menjadi pemimpin organisasi Sarekat Islam dan kerap berpidato menyebarkan semangat persatuan.

“Pahlawan kita dulu banyak bicara tapi kerjanya banyak ya,” celoteh seorang anak.

Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal 'Khatuliswa' yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal ‘Khatuliswa’ yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Dari sana dimulai lah cerita perjuangan Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Taman Siswa untuk menyebarkan ilmu. Cuplikan sejarah itu dilanjutkan dengan peristiwa penting jelang kemerdekaan seperti Sumpah Pemuda, masuknya tentara Jepang, Peristiwa Rengasdengklok sampai akhirnya perumusan naskah proklamasi.

Sebagai akhir drama musikal itu, penayangan video arsip serta naskah proklamasi diiringi suara Presiden Soekarno saat membacakannya pada 17 Agustus 1945.

Pertunjukan pun ditutup dengan perjalanan pulang kelompok pendaki itu, setelah dua malam berkemah sembari bertukar sejarah bangsa Indonesia pada enam anak dengan berbagi karakter.

Ada yang berbicara dengan logat Ambon, bergaya seperti anak zaman sekarang dengan dialek berbahasa Inggris, penakut, hingga kakak perempuan yang terkadang bertingkah semena-mena.

Kalau awalnya dibuka dengan lagu nasional, drama musikal itu ditutup dengan lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Tanpa panduan penonton langsung berdiri dan ikut bernyanyi, sembari melambaikan bendera merah putih yang dibagikan penyelenggara.

Sejarah Indonesia dalam 3,5 Jam

Dalam balutan drama musikal yang berdurasi selama 3,5 jam, pertunjukan itu terbagi dalam dua sesi. Melalui pertunjukan itu masyarakat Indonesia diajak menyusuri waktu ke belakang, menikmati cerita kepahlawanan dari berbagai daerah. Dimulai masa kedatangan VOC hingga era kemerdekaan yang diangkat dari sudut pandang berbeda. Berupa dongeng seorang ayah.

Selain kisah sejarah, penonton pun diajak mengenal keragaman seni dan budaya Indonesia dari beberapa masa berbeda.

“Melalui drama musikal Khatulistiwa ini, penonton dapat menyaksikan perjuangan para pahlawan di berbagai daerah melawan penjajahan,” kata Adjie NA, sutradara pertunjukan.

Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal 'Khatuliswa' yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal ‘Khatuliswa’ yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Dia mengatakan, itu pun sebagai pengingat bahwa “persatuan dan kesatuan sangatlah penting demi terciptanya Bangsa Indonesia yang sejahtera.”

Di samping mengusung kesenian dari berbagai daerah yang menjadi bagian pertunjukan, suguhan dari setting panggung, properti seni, pengembangan teknologi, kostum, lagu hingga tari-tarian pun turut memiliki andil.

Balutan cuplikan demi cuplikan sejarah perjuangan Indonesia begitu memukau. Namun sayangnya, ada kesalahan teknis seperti waktu penempatan lampu sorot yang sesekali tidak tepat. Beberapa ‘kebocoran’ terjadi kala perpindahan antara satu adegan ke adegan lain.

Latar properti pendukung kala sedang kilas balik masih ada yang tertinggal dan begitu tampak di atas panggung. Sepertinya kecil, tapi cukup menjadi ‘noda’ pertunjukan.

Misalnya, tenda para pendaki yang tetap ditinggal di atas panggung. Padahal kisah yang ditampilkan sedang kembali ke masa lalu. Tenda dibiarkan teronggok di sana.

Kemudian, kala para pejuang yang sedang berakting gugur dalam perang mereka bergegas dari panggung untuk berganti ke adegan lain. Tapi seketika lampu sorot menyala lebih cepat. Itu membuat mereka seakan ‘hidup’ kembali, padahal digambarkan telah mati.

Soal penyampaian pesan, Adjie cukup apik mengarahkan para pemain. Porsi mereka terbilang rata, dialog yang yang disampaikan pun seakan hendak membawa penonton larut ke dalamnya.

Dalam hal ini, kemampuan penulis naskah cukup baik. Dia mampu merangkum penjajahan Indonesia selama 350 tahun lebih, ke dalam kemasan sederhana, tapi langsung ke intinya.

Selingan kehidupan selama mendaki gunung pun diceritakan dengan baik, bagaimana mereka bertemu dengan anggota Pramuka yang kini sudah mulai tak banyak dikenal. Terselip pesan, mereka menyayangkan berkurangnya kegiatan Pramuka yang membantu anak untuk peduli pada lingkungan sekitar.

Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal 'Khatuliswa' yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.Foto: CNN Indonesia/Agniya Khoiri
Cuplikan sejarah Indonesia dibalut lewat drama musikal ‘Khatuliswa’ yang berlangsung sejak 18-20 November 2016 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki.

Sesekali, kritikan soal kondisi masyarakat sekarang pun dihadirkan. Seperti adanya teknologi yang mulai kerajingan dan lupa punya kehidupan lain. Kemudian mulai lupa dengan sejarah yang mana kebebasan saat ini didapat berkat tumpah darah perjuangan pahlawan.

“Banyak masukan dari dunia luar, bahwa anak Indonesia saat ini kurang menjiwai artinya menjadi bangsa Indonesia. Kita perlu diingatkan kembali,” ujar Tiara Josodirjo selaku inisiator drama musikal Khatulistiwa ini.

Drama musikal ini turut melibatkan sejumlah sosok yang sudah terbiasa berada dalam pertunjukan seni di Indonesia seperti Ifa Fachir, Simhala Avadana dan Ava Victoria sebagai penata laku dan musik.

Mirna Yusuf dan Nataya Bagya sebagai penulis naskah, Jefriandi Usman sebagai penata gerak dan tari, kemudian Auguste Soesastro sebagai penata kostum.

Untuk menjaga sejarah Indonesia yang akurat, drama ini turut melibatkan sejarawan sekaligus pendiri komunitas Historia Indoneia, Asep Kambali.

Selain itu, pertunjukan itu pun turut melibatkan ratusan talenta muda Indonesia termasuk Rio Dewanto, Kelly Tandiono, Tika Bravani, Epy Kusnandar, Sita Nursanti, dan lainnya.

“Kami berharap dengan adanya ini, hari para generasi musa Indonesia dapat terketuk untuk lebih mengenal sejarah bangsanya,” kata Tiara.

Dia menambahkan, “Hingga kecintaan mereka terhadap tanah air meningkat dan mereka pun termotivasi untuk meneruskan perjuangan pahlawan dengan mengisi kemerdekaan dengan hal bermanfaat.”

Drama musikal Khatulistiwa berlangsung sejak 18-20 November 2016, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. 

Sumber (CNN)

Teater Populer Beri Slamet Rahardjo Pelajaran Kehidupan

a967c63c-ac6f-4a8f-93e3-0c536028531c_169

Slamet Rahardjo menjadi tangan ke-dua yang menangani Teater Populer setelah pemimpin pertamanya, Teguh Karya, mangkat. Slamet sudah mengenal betul teater itu. Sejak pentas pertama pada 1968, ia sudah terlibat bersama Teguh.

Itu merupakan kelompok teater pertama di Indonesia, yang digagas Soekarno. Mulanya bernama Teater Populer Hotel Indonesia, lalu menjadi Teater Populer.

“Teater Populer sudah ada di Hotel Indonesia, sejak saya belum masuk. Namanya Teater Populer Hotel Indonesia. Ketika Pak Teguh jadi dosen di ATNI [Akademi Teater Nasional Indonesia] dan saya adalah muridnya,” tutur Slamet.

Membuat pentas teater bukan satu-satunya pekerjaan Teguh saat itu. Ia juga membuka kelas akting. Banyak selebriti ternama yang dihasilkannya. Tapi Slamet termasuk yang tidak berani menjajal kelas akting itu.

“Karena tidak punya keberanian, major saya adalah art directing,” katanya.

Tapi Slamet terbilang cerewet. Ia sering melontarkan kritik pedas untuk kelas itu. Teguh akhirnya gerah dan meminta Slamet mencoba sendiri. Supaya ia bisa membuktikan mana yang lebih bagus. Ia ikut casting. Ternyata malah diterima.

“Saya buktikan itu dengan membaca dan melakukan yang diminta, lalu saya diterima dan disarankan mengubah major saya. Tapi sampai sekarang saya tidak mengubahnya, saya tetap belajar art directing dan akting,” kata Slamet lagi.

Teguh Karya, Sosok Guru Kehidupan

Meski Slamet tak mengikuti saran Teguh, ia tak bisa menampik betapa sang pelopor teater dan akting itu adalah guru baginya. Guru kehidupan.

“Dia sangat rendah hati, kami belum tahu apa-apa, dia ajarkan dari hal yang paling sederhana. Dia mengajarkan untuk mencintai pekerjaan. Mencintai itu harus intensif, menganalisis lebih dalam lagi,” kenang Slamet.

“Dan akhirnya jadilah saya manusia yang terperangkap manis dalam kesenian. Ternyata seni itu kreativitas, bukan imitasi kehidupan,” imbuhnya.

Dari Teguh ia belajar rendah hati. Sehingga ketika membawa pulang Piala Citra di usia masih sangat muda, Slamet tidak sombong. Bangga, tapi merasa masih terus harus belajar sebagai aktor. Terus belajar membuatnya tak sombong.

“Semakin kita tahu, semakin tak bisa banyak berbicara. Semakin malu, ngapain ngomong ini itu,” kata Slamet penuh filosofis.

Artis lain yang juga belajar dari Teguh seperti Nano Riantiarno, Christine Hakim, mendiang Alex Komang, dan nama-nama besar lain di dunia perfilman.

Jejak Slamet di Jalur Seni

Sebagai murid Teguh yang dibawa untuk mendirikan Teater Populer, Slamet kala itu satu angkatan bersama Nano Riantiarno untuk sekolah di ATNI. Tapi dua tahun setelah perjalanan Teater Populer, Nano yang ditemui terpisah mengatakan dirinya memilih mundur dan mendirikan Teater Koma.

Menurut Nano itu karena Teater Populer mulai berubah haluan ke ranah film. Tak sejalan lagi dengan mimpinya di dunia teater. Namun kata Slamet, sebenarnya hanya dirinya yang ‘membelot’ ke film. Teguh malah mengejeknya.

“Suatu hari saya kecewa, ada suatu saat teater didekati sembarangan. Main teater tanpa belajar. Saya tersinggung dan bilang ke Pak Teguh, ‘Saya mau ke film.’ Dia bilang, ‘Apa hebatnya?’” Slamet bercerita membuka kenangan.

Pada akhirnya, Slamet memulai karier sebagai aktor pada 1970. Ia membintangi Wajah Seorang Laki-laki (Ballad of A Man), karya perdana Teguh jua.

Slamet mengaku bisa menyeimbangkan film dan teater. Dasar berfilm, main mimik dan detail wajah, didapatnya dari teater. Hanya mediumnya saja yang berbeda. Jika tidak di Teater Populer, ia mungkin tak belajar hal-hal seperti itu.

Slamet Rahardjo menjadi pemain sekaligus sutradara dalam lakon 'Suara-suara Mati.'Foto:
Slamet Rahardjo menjadi pemain sekaligus sutradara dalam lakon ‘Suara-suara Mati.’

Sebagai sutradara, Slamet baru tampil pada acara Pekan Seni Mahasiswa Jakarta, pertengahan 1970-an. Ia menyutradarai Rambut Palsu (The False Hair) karya Peter Karvas dan keluar sebagai Sutradara Terbaik.

Slamet juga tampil sebagai sutradara teater dan menyutradarai lakon It Should Happen to A Dog karya Wolf Mankowitz, Lady Aoi karya Mishima, Perempuan Pilihan Dewa karya Bertolt Brecht, dan yang paling mendapat tanggapan baik dari para kritikus adalah Dag Dig Dug karya Putu Wijaya.

Slamet Rahardjo tidak berhenti berkarya. Ia juga terlibat dalam Antigone karya Jean Anouilh pada September 2006 dan 1001 Malam pada Mei 2009. Yang terakhir adalah ‘Pinangan dan Penagih Hutang karya Anton Chekhov, Maret 2011.

Rembulan dan Matahari (The Moon and The Sun) yang rilis pada 1980 merupakan film pertama yang disutradarai Slamet. Karya itu dicatat oleh para kritikus sebagai film alternatif karena menampilkan bentuk dan gaya penyutradaraan yang berbeda dengan film Indonesia lainnya saat itu.

Penghargaan demi penghargaan pun diterima Slamet, dari nasional maupun internasional. Ia bukan hanya aktor yang baik, tapi juga sutradara hebat.

Saat ini, Slamet masih terus berkarya bersama Teatar Populer dan berbagi ilmu dengan generasi muda penerus dunia seni teater Indonesia. Ia selalu berpesan pada mereka, seperti yang dipelajarinya dari sosok Teguh dan pengalaman, “Seniman itu modalnya hati nurani, tidak pernah membuat orang jadi galau.”

“Seniman membuat orang dalam kebahagiaan, jadi saya berpikir, bahwa kuncinya adalah membahagiakan ibu-bapaknya orang di sekitar,” katanya.

Saking cintanya Slamet pada seni, ia sampai berangan, jika kelak ia diambil Tuhan dan dihidupkan kembali, tetap akan memilih seni sebagai jalan hidupnya.

 

Sumber (CNN)

Menelusuri Karakter Politik Masarakat Jawa Dilembah Waeapo

opiniimg_20150617_003139

Oleh : MR Litiloly

Ketika kita berbicara bagaimana kekuatan politik masyarakat jawa tentu sangat beragam dan aneh, adalah kerena masyarakat jawa dalam persoalan kekuatan adalah masyarakat yang kuat dari dahulunya terutama dalam kekuatan politik.

Kita tahu bagaimana kekuatan politik majapahit dan bagaimana dengan Singosari, Gajah Mada dan kekuasaan Kartanegara kekuatan politik Tradisional Hemengkobowono Sampai sekarang, dan bagaimana para kiyai mampu mempengaruhi rakyat aceh lewat kharisma yang di milikinya.

Namun yang jelas intrik politik jawa dari dahulu tidak beda dengan sekarang yang menjadi. Untuk kita ketahui ternyata hanya seperlima orang yang berada di luar pulau jawa mengisi post pemerintahan starategis, pejabat Starategis dari mulai presiden sampai menteri adalah orang jawa yang mengisi pos pemerintahan tersebut, Artinya adalah orang jawa  sangat bijak  dalam menjalankan peta starategi politik, hanya sedikit dari Sumatera dari Kalimantan, dari Sulawesi dan Irian Jaya yang berhasil duduk di bangku kekuasaan.

Kehadiran mereka pertama kali ke Pulau Buru justru menjadi tonggak awal bagaimana daerah ini berkembang dengan proses asimilasi warga pribumi dengan pendatang. Terutama sejak Pulau Buru dijadikan salah satu kawasan tujuan Transmigrasi dari orang-orang Jawa, baik dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat / Sunda. Secara perlahan, kehadiran warga transmigran dari Jawa membawa perubahan besar dalam pola dan tatanan kehidupan warga masyakat Pulau Buru.

Dengan ciri khas keahlian orang Jawa yang bercocok tanam (bertani), daerah Maluku terutama Pulau Buru yang semula mengandalkan sagu sebagai bahan makanan pokok mulai beralih ke nasi. Kawasan pertanian yang dihuni warga transmigran berada di Kecamatan Waeapo, sekitar satu jam perjalanan dari ibu kota Kabupaten Buru yaitu Namlea, terbagi dalam sub-sub yang disebut dengan Unit. Berbeda dengan daerah transmigrasi di Indonesia lainnya yang lebih dikenal dengan sebutan SP (Satuan Pemukiman, red).

dari tahun 1965 sampai pulau Buru memiliki otonominya sendiri sebagai kabupaten selama 16  tahun tradisi orang jawa yang berada pada lembah waeapo masih tetap sama dengan terus bertahan hidup dengan cara memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam. Hal tersebut seakan  menjadi dinding besar yang menyebabkan masarakat jawa di waeapo tidak serta merta terkooptasi dengan hiruk pikuk momentum pilkada.

Perawatan tanaman dan pemeliharaan ternak yang memerlukan perhatian serius telah menyita waktu mereka, aktifitas yang lebih banyak menguras tenaga dan waktu memposisikan mereka pada tempat yang jauh dari ekskalasi atsmosfir politik praktis terkhusunya pilkada pada 2017 mendatang.

Meskipun secara fakta empiris kedudukan masarakata jawa yang berdomisili di kabupaten Buru jarang menduduki jabatan jabatan strategis didaerah, tetapi kedudukan masarakat jawa yang berada dilembah waeapo memiliki nilai dan peran yang sangat berarti terhadap tatanan politik  baik bagi kabupaten buru sendiri maupun provinsi maluku.

Kesungguhan para petani waeapo dalam  bercocok tanam terkhususnya pada komoditi padi sawah secara tidak langsung berimplikasi terhadap perkembangan daerah. Kemampuan mereka dalam mentransformasikan lembah yang penuh dengan hutan dan rerumputan menjadi taman syurga dalam menarik perhatian sehingga mendatangkan dua Presiden (SBY dan Jokowi) pada tahun yang berbeda secara tidak langsung memaksakan pemerintah daerah harus lebih memperhatikan kesejhatraan mereka dalam aktifita bertani yang telah berjasa menjadikan pulau Buru sebagai salah satu aikon yang terkenal di kanca Nasional sebagai daerah lumbung padi.

joko-sawahOpini

Tidak  adanya agresifitas dalam memperubutkan kedudukan strategis pada kedudukan pemerintahan telah menimbulkan sebuah hipotesa bagi penulis sesungguhnya karakterisitik politik orang jawa dilembah waeapo secara khas memberikan tekanan dan pertanda pada pemusatan kekuasaan dan bukan pada perbuatan yang memperlihatkan pemakaian atau pengunaanya. Dengan tidak menjadikan stratifikasi sosial sebagai tolak ukur mereka tetap mampu mendudukan posisi mereka sebagai kelompok yang memiliki kekuatan politik dan diperhitungkan  dalam menunjang perkembangan dan pembangunan daerah.