
PERFORMA perekonomian Indonesia pada tahun ini diprediksi bakal lebih baik dibandingkan pada tahun lalu, seiring dengan menggeliatnya perekonomian sejumlah negara maju yang membentuk sikap optimistis tersendiri. Secara umum ekonomi global sudah memberi sinyal pemulihan meski belum secepat yang diharapkan.
Setidaknya indikator pemulihan ekonomi global sudah muncul di Amerika Serikat (AS) yang ditandai dengan melandainya angka pengangguran ke level 4,6%, tercatat terendah sejak zaman perang Vietnam. Disusul kebijakan Presiden terpilih AS, Donald Trump yang diprediksi fokus pada stimulasi fiskal dan proteksi perdagangan di dalam negeri. Melihat kondisi tersebut, Chief Economist DBS Group Research, David Carbon berani memprediksi pertumbuhan ekonomi AS pada level 2,7% pada tahun ini.
Dalam kaitan perkembangan ekonomi Indonesia pada tahun ini, masih berdasarkan hasil riset DBS Group Research, perekonomian bakal bertumbuh pada level 5,3% yang didukung peningkatan arus investasi menjadi 5,6% dari tahun lalu yang diprediksi sekitar 4,5%. Sedang tingkat konsumsi diperkirakan bakal beretengger di level 5% dengan tingkat inflasi rata-rata 4,5%.
Selain itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dinilai cukup percaya diri untuk mengendalikan defisit anggaran menyusul suksesnya program pengampunan pajak. Adapun defisit neraca transaksi berjalan diramalkan pada kisaran 2,1% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dan, sepanjang tahun lalu BI dinilai lebih aktif dalam mengendalikan volatilitas di pasar uang. Berkat pengalaman bank sentral itu akan sangat berguna sepanjang tahun ini.
Pemerintah sendiri begitu optimistis pertumbuhan ekonomi akan lebih baik pada tahun ini dibandingkan tahun lalu. Simak saja pernyataan dari Menteri Perdagangan (Memperdag) Enggartiasto Lukito bahwa tidak ada alasan untuk tidak optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun ini dengan melihat angka inflasi yang terkontrol dan didukung oleh daya beli masyarakat yang terjaga.
Saat ini, sebagaimana diklaim Mendag Enggartiasto Lukito bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada diperingkat ketiga di Asia di bawah China dan India. Meski demikian, Mendag mengakui berbagai tantangan baru yang kini harus disiasati, di antaranya munculnya berbagai tindakan proteksi perdagangan oleh sejumlah negara dengan berbagai cara, misalnya mempersulit barang masuk melalui pengenaan kenaikan bea masuk.
Memang, sejumlah indikasi pertumbuhan ekonomi akan lebih baik tahun dibanding tahun lalu telah memberi semangat tersendiri. Dilihat dari sisi pasar modal perkembangan sepanjang tahun lalu cukup meyakinkan.
Sebagaimana diungkapkan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio, bursa saham Indonesia kini berada diperingkat empat dunia dan nomor dua di Asia. Denga fakta tersebut, Tito Sulistio menyatakan sebuah cerminan kepercayaan terhadap BEI dan masa depan perekonomian Indonesia yang lebih baik.
BEI sempat mencatat transaksi tertinggi sebanyak 433.000 tranksasi per hari dan pernah mencapai kapitalisasi pasar tertinggi sekitar Rp 5.850 triliun. Dan pada penutupan perdagagan akhir 2016 lalu indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 5.296.
sumber (SindoNews)